Dendam karena sering dimarahi. Itulah yang memicu Roymardo Sah Siregar nekat menghabisi nyawa dosennya. Itu terungkap, setelah polisi mengintrogasinya.
“Dari pengakuan tersangka, ia melakukan aksi tersebut karena dendam sering dimarahi oleh korban. Jadi motifnya bukan karena mesum,” ungkap Kapolresta Medan Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto dalam paparannya kepada wartawan di Markas Polresta Medan, Selasa (3/5).
Selain sering dimarahi, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) stambuk 2013 itu juga mengaku pernah diancam tidak lulus oleh Hj Nurain Lubis (63), dosen yang ia gorok hingga tewas.
Dalam sebulan terakhir, sebut Mardiaz, mahasiswa berumur 21 tahun itu kerap dimarahi karena masuk kuliah hanya mengenakan kaos (t-shirt). Bagi Nurain Lubis, seorang mahasiswa harus mengenakan kemeja saat mengikuti perkuliahan agar terlihat sopan.
“Saat marah, korban menurut tersangka pernah mengancam tidak meluluskannya. Jadi, tersangka diancam akan diberikan nilai jelek atau tidak diluluskan, jika tidak mengubah perilakunya,” ujar Mardiaz.
Karena dendam tersebut, sambung Mardiaz, tersangka kemudian merencanakan pembunuhan dengan membawa pisau dapur bergagang kayu dan martil ke kampus yang terletak di Jalan Muchtar Basri, Medan Timur. Setibanya di kampus, tersangka melihat korban berjalan ke salah satu kamar mandi dan langsung mengikutinya.
“Saat korban hendak keluar dari kamar mandi, tersangka langsung menikamnya,” jelas perwira polisi bertanda pangkat tiga melati ini.
Lewat proses visum, ungkapnya pula, diketahui bahwa tersangka menikami leher korban hingga sepuluh kali. Selain itu, terdapat tiga luka sayatan di lengan kiri, dahi serta telunjuk dan kelingking kiri korban. Ini mengindikasikan korban sempat meronta dan mencoba menangkis tikaman.
Ditegaskan Mardiaz, adanya unsur dendam dan perencanaan dalam kasus pembunuhan tersebut mengakibatkan Roy dijerat Pasal 340 KUH Pidana jo 338 KUH Pidana, dengan ancaman hukuman mati.
Dari lokasi kejadian, petugas mengamankan barang bukti berupa 1 unit kereta BK 2174 UL, pisau bergagang kayu, jaket berwarna hitam, topi berwarna biru, martil, 2 potong kain dan baju korban.
Sekedar mengingatkan, ayah Roy yang berdomisili di Lingkungan II, Kelurahan Kayu Ombun, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan langsung stroke begitu mendapat kabar tentang pembunuhan tersebut.
Sementara itu, Fajar Siregar menegaskan bahwa pihak keluarga tidak percaya adik bungsunya itu tega membunuh dosen. “Kami tidak percaya dia yang membunuh. Dia itu anak baik, harapan keluarga. Kami akan mati-matian menempuh segala cara agar adik saya itu mendapatkan keadilan,” tukas Fajar.
Kemarin, wali kelas Roy semasa duduk di kelas XII SMA Negeri 3 Padangsidempuan, Meilinda Situmorang, juga melontarkan rasa tidak percayanya bahwa mantan anak didiknya itu melakukan pembunuhan. Sebab, ia mengenal Roy sebagai anak yang baik dan pendiam.
“Selama saya menjadi wali kelasnya di IPS 1, Roy itu anak pendiam dan baik. Kemauan belajarnya juga tinggi, sebab kelas IPS 1 biasanya ditempati anak yang berprestasi lebih bagus dibandingkan kelas IPS lainnya. Roy tidak punya catatan kenakalan khusus semasa sekolah,” ujar Meilinda.
Kibarkan Bendera Setengah Tiang
TERKAIT pembunuhan terhadap salah seorang dosennya, rektorat dan civitas akademika UMSU menetapkan libur khusus selama dua hari dan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda duka cita dan berkabung.
TERKAIT pembunuhan terhadap salah seorang dosennya, rektorat dan civitas akademika UMSU menetapkan libur khusus selama dua hari dan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai tanda duka cita dan berkabung.
Libur dan pemasang bendera setengah tiang itu dilakukan di tiga kampus sekaligus, yakni yang berada di Jalan Mukhtar Basri, Kampus Pascasarjana Jalan Denai, dan Kampus Fakultas Kedokteran Jalan Gedung Arca, mulai Selasa (3/5) hingga Rabu (4/5) ini.
Hal tersebut disampaikan Humas UMSU Ribut Priadi seusai rapat rektorat bersama pimpinan fakultas se-UMSU di Kampus Jalan Mukhtar Basri. “Pimpinan dan seluruh civitas akademika UMSU menyatakan rasa duka mendalam atas musibah ini. Sebagai bentuk rasa duka, segala aktivitas perkuliahan dan administrasi di tigas kampus ditiadakan selama dua hari. Umsu berkabung,” katanya.
Dia juga menyatakan civitas akademika UMSU melakukan takziah bersama-sama ke rumah duka di Jalan Desa Lama No 54, Kecamatan Pancurbatu, Deliserdang dan bersama-sama pula mengantar jenazah ke pemakaman di dekat rumah duka.
Rektor UMSU Prof Agussani dalam upacara pelepasan jenazah Hj. Nurain Lubis mengemukakan harapan agar Polresta Medan serius menangani perkara pembunuhan tersebut. “Karena kami sangat merasa kehilangan sekali atas kepergian Bu Nuraini Lubis.
Mudah-Mudahan polisi bisa memberi hukuman seberat mungkin kepada tersangka Roymando Sah Siregar yang membunuh dosennya sendiri,” ujar Agussani.
Pidato Agussani ini pun memantik tangis para pelayat dan mahasiswa yang hadir dalam upacara pelepasan jenazah tersebut. Semasa hidup, menurut Agussani korban merupakan dosen dengan prestasi bagus dan selalu rutin mengikutti kegiatan kampus.
Di tempat sama, keluarga korban juga menyatakan pengharapan gar Roy dihukum mati. “Hukuman mati adalah balasan setimpal atas apa yang telah dilakukannya kepada dosen sendiri,” tukas M Taufik Lubis, saudara sepupu korban.
Ini Kata Kapoldasu
Kapoldasu melalui Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Helfi Assegaf, mengatakan motif pembunuhan tersebut karena sakit hati. “Tadi malam sudah dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan berdasarkan keterangan dari pelaku. Kita menerima informasi tersangka sakit hati terhadap korban. Selama ini sering dimarah dan diancam tidak diberikan nilai yang bagus jika tidak mengikuti perkuliahan korban,” ujar Segaf.
Kapoldasu melalui Kabid Humas Poldasu Kombes Pol Helfi Assegaf, mengatakan motif pembunuhan tersebut karena sakit hati. “Tadi malam sudah dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan berdasarkan keterangan dari pelaku. Kita menerima informasi tersangka sakit hati terhadap korban. Selama ini sering dimarah dan diancam tidak diberikan nilai yang bagus jika tidak mengikuti perkuliahan korban,” ujar Segaf.
Dijelaskannya, korban ini diketahui sebagai dosen dan pembimbing dari pelaku, sedangkan pelaku jarang masuk pada mata kuliah yang bersangkutan. Karena merasa sakit hati pada pagi hari itu sebelum berangkat pelaku sudah mempersiapkan martil dan pisau untuk dibawa ke kampus.
Pada saat jam kosong, pelaku turun dan menunggu di depan ruang kelas. Kemudian ketika melihat korban turun dari ruang dosen menuju kamar mandi, tersangka mengikutinya dan menunggu keluar dari kamar mandi perempuan tersebut. Begitu keluar langsung ditusuk sebanyak 10 kali di leher dan pergelangan tangannya.
Mengenai beberapa mahasiswa yang diamankan saat petugas hendak membawa pelaku dari gedung Fakultas Ekonomi, Kabid Humas Poldasu Kombes Helfi Assegaf, membenarkannya dan mengakui ada beberapa mahasiswa yang diamankan guna dimintai keterangan.
“Ada beberapa mahasiswa kita amankan untuk dimintai keterangannya, karena mereka ini menghalang-halangi pada saat proses evakuasi tersangka, bahkan Ka¬polresta Medan, Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto yang turun ke tempat kejadian perkara (TKP) juga ikut terkena tendangan akibat aksi mahasiswa itu.
‘Hujan’ Air Mata
ISAK tangis keluarga, kerabat dan teman serta warga pecah menyelimuti kediaman Hj Nurain Lubis, dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang tewas dibunuh mahasiswanya sendiri.
ISAK tangis keluarga, kerabat dan teman serta warga pecah menyelimuti kediaman Hj Nurain Lubis, dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang tewas dibunuh mahasiswanya sendiri.
Ratusan pelayat dari kerabat korban dan rekan sejawatnya dari UMSU serta para mahasiswa UMSU terus berdatangan ke rumah duka di Jalan Desa Lama, Pancur Batu, Deliserdang tersebut, Selasa (3/5).
Pihak keluarga sendiri masih terlihat syok dengan kejadian yang menimpa Nurain, sebab sehari-harinya korban menurut mereka tidak pernah bercerita mengenai persoalan di kampus.
“Beliau memang sangat tegas, namun selama ini tidak pernah mengeluh mengenai persoalan di kampus,” kata Zainal Aziz, adik ipar korban.
Zainal Aziz yang juga dosen di UMSU ini mengatakan, hari ini pelaku seharusnya mengikuti praktik mengajar di kampus dimana korban menjadi penilai. “Hari ini jadwalnya pelaku mengikuti praktik mengajar,” ujarnya.
Usai disholatkan di Mesjid Jam’i tak jauh dari rumah duka, Selasa (3/5) siang, jenazah Hj Nurain Lubis dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Bakti, persis belakang pajak Pancurbatu, Deliserdang.
Semasa hidup, Hj Nurain meningalkan seorang suami bernama Zulkifli Tanjung dan 4 orang anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan yakni, Iqbal, Ikhsan, Rendy dan Wira. “Korban meninggalkan seorang suami dan empat orang anak. Kebetulan, suami almarhumah ini sakit,” ungkap kerabat korban.
Kerabat korban mengatakan, suami almarhumah Zulkifli Tanjung sudah dua tahun sakit. Akibat penyakit yang diidapnya, suami korban tidak mampu berjalan.
Pendiam & Rajin Ibadah
DIBALIK aksi sadisnya, ternyata Roymardo Sah Siregar dikenal pendiam dan dan rajin beribadah. Hal itu diungkapkan Boru Silalahi, pemilik kos yang dihuni Roymardo selama kuliah di UMSU.
DIBALIK aksi sadisnya, ternyata Roymardo Sah Siregar dikenal pendiam dan dan rajin beribadah. Hal itu diungkapkan Boru Silalahi, pemilik kos yang dihuni Roymardo selama kuliah di UMSU.
“Terkejut saya begitu dapat kabar kalau si Roy membunuh dosennya. Padahal, dia orangnya pendiam dan rajin beribadah,” kata Boru Silalahi, Selasa (3/5) sore.
Selama 2 tahun tinggal di kos-kosan Jalan Tuasan, No-83, Kelurahan Indrakasih, Medan Tembung, itu Roy tak pernah berprilaku buruk.
“Sudah 2 tahun dia di sini, sebelumnya, dia ikut kakaknya yang ngekost di tempat saya. Selama itu, dia gak pernah macam-macam di kos. Setahu saya, dia juga gak pemakai narkoba. Anaknya juga rajin sholat. Sering dia ke mesjid depan kos-kosan ini,” sambungnya.
Sementara itu, pasca peristiwa berujung maut itu, suasana di rumah kost Roy terlihat sepi. Bahkan pemilik kost mengakui, sebelum Roy membunuh dosennya, pria tak merokok itu juga tidak pernah melihat teman kulihnya datang berkunjung. Terlebih pasca kejadian ini.
‘Paradigma Ini
Tidak Perlu Ada’
Psikolog UMA Prof Munir mengatakan, kasus pembunuhan dosen oleh mahasiswa merupakan paradigma yang tidak perlu ada. Kalau dikaji, ada beberapa kasus serupa di Republik ini. Ini merupakan fenomena yang perlu dicermati oleh pemuka-pemuka pendidikan karena ada sebab maka ada akibat.
Tidak Perlu Ada’
Psikolog UMA Prof Munir mengatakan, kasus pembunuhan dosen oleh mahasiswa merupakan paradigma yang tidak perlu ada. Kalau dikaji, ada beberapa kasus serupa di Republik ini. Ini merupakan fenomena yang perlu dicermati oleh pemuka-pemuka pendidikan karena ada sebab maka ada akibat.
“Perlu dipelajari apa sebab-sebabnya. Kalau menurut saya ada dua gendangnya, yang pertama masalah dendam dan kedua si tersangka punya kelainan, dalam konteks ada sesuatu gangguan kejiwaan. Kita belum tahu ini, masih diselidiki. Kalau dendam kita mengarah ke mana,” kata Munir.
Hubungan dosen dengan mahasiswa. Kadang ada sesuatu yang mendasari mahasiswa tidak senang pada dosen. Itu biasanya berkaitan dengan penghargaan dosen kepada mahasiswa dan yang kedua masalah penilaian.
“Kekecewaan itu bisa menyebabkan kejadian itu. Tapi kita bukan menuduh dosen itu sekarang. Namun faktor itu bisa jadi sumber. Anak ini merasa tidak didukung dan dihargai sehingga menimbulkan kenekatan. Berarti jiwanya labil. Kalau jiwa anak labil dan menghadapi peristiwa seperti itu, maka si anak bisa berbuat nekat,” ungkapnya.
Yang kedua, si anak punya penyakit tertentu namun kita harus pelajari atau makna kesehatan mentalnya terganggu karena faktor fisik, budaya dan turunan. Karena orang melakukan suatu tindakan itu karena ketidaknormalan dan faktor pribadi juga bisa melakukan hal seperti itu. Itu perlu dipelajari dimana posisinya sekarang, kata Munir.
“Jadi bagaimana, apakah dosen yang perlu berubah atau mahasiswa yang koreksi diri? dijawab Munir, saya pikir dua-dua. Dengan kejadian ini, ke depan dosen harus mulai hati-hati. Karena kondisi sekarang tidak sama dengan kondisi masa lalu. Karena kontaminasi dan perilaku manusia itu sudah bermacam-macam akibat tontonan, pengaruh narkoba dan lain-lain. Dosen dan orangtua harus mewaspadai semua ini.”(rom/ari/dam/mag-putra)
